Ada hari-hari ketika membuka dashboard blog terasa seperti berdiri di depan lemari penuh pakaian lalu berkata, “Aku tidak punya baju.” Padahal ide ada. Draft ada. Catatan di ponsel ada. Bahkan mungkin ada puluhan topik yang pernah ditulis di buku kecil atau aplikasi catatan. Tapi tetap saja, kursor berkedip tanpa belas kasihan.
Diam. Kosong. Stuck.
Sebagai blogger, saya mulai sadar bahwa kondisi ini ternyata bukan karena kehabisan ide. Justru sebaliknya. Kadang kita terlalu banyak ide sampai bingung harus mulai dari mana.
Ketika Menulis Berubah Menjadi Beban
Awalnya menulis terasa menyenangkan. Kita menulis karena ingin berbagi cerita, pengalaman, atau sekadar menuangkan pikiran yang berputar di kepala. Namun semakin lama, ada target yang mulai muncul.
Artikel harus SEO. Judul harus menarik. Harus dapat trafik. Harus lebih baik dari artikel sebelumnya.
Tanpa sadar, menulis yang tadinya menyenangkan berubah menjadi pekerjaan yang penuh tekanan. Akhirnya kita lebih banyak memikirkan hasil daripada proses. Dan di titik itulah rasa stuck mulai muncul.
Mungkin Kamu Tidak Kehabisan Ide
Coba buka kembali catatan lama. Berapa banyak topik yang pernah kamu simpan dengan kalimat:
- Nanti ditulis.
- Menarik nih.
- Besok saja.
- Kalau sempat dibuat artikel.
Biasanya jumlahnya tidak sedikit. Artinya masalahnya bukan tidak ada bahan tulisan. Masalahnya sering kali karena kita ingin tulisan pertama langsung sempurna. Padahal tulisan yang selesai selalu lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak pernah dipublikasikan.
Saat Buntu, Ceritakan Hal Sederhana
Beberapa artikel yang paling banyak dibaca di blog saya justru lahir dari hal-hal sederhana. Bukan hasil riset berhari-hari. Bukan topik yang sedang viral. Hanya pengalaman kecil yang mungkin dialami banyak orang.
Misalnya:
- Kesulitan bangun pagi.
- Bingung memilih domain pertama.
- Takut memulai blog baru.
- Menunda pekerjaan karena terlalu banyak berpikir.
Topik sederhana sering kali terasa lebih dekat dengan pembaca dibanding pembahasan yang terlalu rumit. Karena pembaca datang bukan hanya mencari informasi. Mereka juga mencari cerita yang bisa mereka rasakan.
Cara Saya Keluar dari Kondisi Stuck
Setelah beberapa kali mengalami kebuntuan menulis, saya menemukan satu cara yang cukup membantu. Saya berhenti memikirkan artikel. Lalu mulai menulis apa saja.
Tidak peduli jelek.Tidak peduli berantakan. Tidak peduli nanti akan dipublikasikan atau tidak.
Kadang hanya satu paragraf. Kadang hanya satu kalimat. Anehnya, dari kalimat sederhana itulah artikel sering mulai terbentuk.
Menulis ternyata seperti mendorong sepeda. Bagian tersulit bukan mengayuh. Tetapi mulai bergerak.
Tidak Semua Hari Harus Produktif
Ada kalanya otak memang lelah. Ada kalanya kita butuh membaca lebih banyak daripada menulis dan itu tidak masalah.
Blog tidak akan mati hanya karena kamu tidak mengunggah artikel hari ini. Justru terkadang jeda kecil memberi ruang untuk menemukan sudut pandang baru yang lebih segar. Jadi jika hari ini kamu sedang stuck, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Mungkin kamu hanya sedang mengisi ulang bahan bakar.
Stuck dalam menulis bukan tanda bahwa kamu tidak berbakat menjadi blogger. Bukan juga tanda bahwa ide sudah habis. Sering kali itu hanya pertanda bahwa kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.
Jadi hari ini, cobalah membuka halaman kosong. Tulis satu kalimat. Apa saja.
Karena setiap artikel besar selalu dimulai dari satu kalimat sederhana yang berani dituliskan dan siapa tahu, artikel yang sedang kamu tunda hari ini justru menjadi artikel yang paling berkesan bagi seseorang di luar sana.


