Kita semua punya mimpi. Tapi tidak semua orang mau mulai menjalaninya.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana akhirnya, sampai lupa bahwa sebuah perjalanan memang harus dimulai dari langkah pertama.
Aku pun begitu.
Ada banyak hal yang pernah terpikirkan. Mau bikin ini, mau belajar itu, mau mencoba sesuatu yang baru. Tapi sering kali semuanya berhenti sebagai rencana.
Besok saja.
Nanti kalau sudah siap.
Nunggu punya modal.
Nunggu waktunya tepat.
Nunggu semuanya sempurna.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin waktu yang benar-benar sempurna itu memang tidak pernah datang.
Dari situlah KITALAGI+ terasa punya cerita sendiri.
KITALAGI+ Bukan Sekadar Nama
KITALAGI+ bukan cuma sebuah nama atau logo.
Ada pesan sederhana di baliknya:
Kita Lagi Menjalani, Bukan Sekadar Bermimpi.
Kata “kita” berarti perjalanan ini tidak selalu harus dilakukan sendirian.
Ada teman, keluarga, pasangan, rekan kerja, atau bahkan orang asing yang secara tidak sengaja menjadi bagian dari perjalanan kita.
Sedangkan “lagi” mengingatkan bahwa hidup sebenarnya terus berlangsung.
Kita lagi belajar.
Kita lagi mencoba.
Kita lagi bekerja.
Kita lagi gagal.
Kita lagi bangkit.
Kita lagi mencari arah.
Dan mungkin, kita juga lagi mengejar sesuatu yang selama ini cuma berani kita impikan.
Lalu ada tanda +.
Sederhana, tetapi justru di situlah ceritanya.
Arti Tanda + di KITALAGI+
Tanda + biasanya kita kenal sebagai simbol tambah.
Tapi dalam KITALAGI+, tanda ini punya arti yang lebih luas.
Selalu ada sesuatu yang bisa ditambahkan dalam hidup.
Hari ini mungkin kita belum tahu apa-apa.
Besok kita belajar satu hal.
Lusa kita melakukan kesalahan.
Setelah itu kita belajar lagi.
Sedikit demi sedikit, semuanya bertambah.
Pengalaman bertambah.
Cerita bertambah.
Teman bertambah.
Kemampuan bertambah.
Bahkan kegagalan pun bisa menjadi sesuatu yang menambah pengalaman.
Jadi, tanda + bukan berarti hidup harus selalu bertambah dalam bentuk materi atau pencapaian.
Kadang yang bertambah hanyalah pemahaman kita tentang hidup.
Dan itu pun sudah cukup berarti.
Kita Lagi Menjalani, Bukan Sekadar Bermimpi
Aku suka dengan kata “menjalani” karena kata ini terasa lebih nyata daripada sekadar “mewujudkan”.
Mewujudkan mimpi terdengar besar.
Menjalani mimpi terasa lebih dekat.
Misalnya kita ingin punya bisnis.
Tidak harus langsung punya toko besar.
Mungkin hari ini cukup membuat satu produk.
Besok mencoba menjualnya.
Lusa belajar membuat konten.
Kemudian gagal.
Lalu mencoba lagi.
Begitu seterusnya.
Sampai suatu hari kita melihat ke belakang dan baru sadar:
“Oh, ternyata aku sudah sejauh ini.”
Begitulah perjalanan bekerja.
Tidak selalu terlihat ketika sedang dijalani.
Kita baru sadar perkembangannya ketika membandingkan diri kita yang sekarang dengan diri kita beberapa tahun lalu.
Mimpi Itu Penting, Tapi Langkah Lebih Penting
Bermimpi bukan sesuatu yang salah.
Justru mimpi bisa menjadi alasan kita untuk terus bergerak.
Yang menjadi masalah adalah ketika mimpi hanya menjadi tempat pelarian.
Kita membayangkan punya sesuatu.
Membayangkan hidup yang lebih baik.
Membayangkan pekerjaan yang kita inginkan.
Membayangkan bisa membuat karya.
Membayangkan punya bisnis.
Membayangkan bisa bepergian ke tempat yang belum pernah dikunjungi.
Tapi semuanya berhenti di kepala.
Padahal mimpi tidak akan tahu jalan pulang kalau kita tidak pernah memberinya kesempatan untuk berjalan.
Tidak perlu langsung berlari.
Jalan saja dulu.
Pelan tidak masalah.
Berantakan juga tidak masalah.
Yang penting bergerak.
KITALAGI+ dan Perjalanan yang Tidak Selalu Mulus
Ada satu hal yang menurutku penting dari sebuah perjalanan: tidak semuanya harus terlihat bagus.
Kadang ada hari ketika kita produktif.
Kadang ada hari ketika kita hanya ingin rebahan.
Kadang ide datang begitu banyak.
Besoknya malah tidak tahu mau menulis apa.
Kadang usaha berjalan lancar.
Kadang juga hasilnya jauh dari harapan.
Itu normal.
Karena menjalani hidup bukan berarti setiap hari harus menjadi versi terbaik dari diri kita.
Ada hari untuk tumbuh.
Ada hari untuk berhenti sebentar.
Ada hari untuk mencoba lagi.
Dan ada juga hari ketika kita hanya perlu berkata:
“Ya sudah, besok kita lanjut lagi.”
Mungkin justru itulah makna dari KITALAGI.
Kita belum selesai.
Kita masih berjalan.
Lebih dari Sekadar Logo
Kalau dilihat sekilas, KITALAGI+ mungkin hanya terlihat seperti tulisan dengan tanda tambah berwarna kuning.
Tapi sebuah identitas seharusnya tidak berhenti pada bentuk visual.
Logo bisa menjadi pengingat.
Warna bisa menjadi karakter.
Dan sebuah nama bisa menjadi cerita.
KITALAGI+ ingin menjadi tentang perjalanan itu sendiri.
Tentang jalan yang sedang kita tempuh.
Tentang makanan yang kita coba.
Tentang pekerjaan yang sedang kita perjuangkan.
Tentang perjalanan ke tempat baru.
Tentang uang yang sedang kita kumpulkan.
Tentang kegabutan yang kadang justru melahirkan ide.
Tentang kehidupan yang kadang serius, kadang lucu, dan kadang tidak masuk akal.
Karena hidup memang seperti itu.
Tidak selalu harus punya pesan besar.
Kadang cukup dijalani.
Kalau Sekarang Masih Bermimpi, Tidak Apa-Apa
Mungkin saat membaca tulisan ini kamu sedang berada di fase yang berbeda.
Mungkin sedang mengejar sesuatu.
Mungkin sedang memulai.
Atau mungkin malah sedang kehilangan arah.
Tidak apa-apa.
Kita tidak harus selalu tahu akan sampai ke mana.
Yang penting, kita tidak berhenti hanya karena belum mengetahui seluruh jalannya.
Sebab sebuah perjalanan memang tidak pernah memberikan peta lengkap sejak awal.
Kadang kita baru tahu arah setelah berjalan.
Dan mungkin, mimpi yang selama ini kita pikir terlalu jauh sebenarnya hanya membutuhkan satu hal:
keberanian untuk memulai.
Jadi kalau hari ini aku harus menjelaskan KITALAGI+ dalam satu kalimat, mungkin sesederhana ini:
Kita lagi menjalani, bukan sekadar bermimpi.
Bukan berarti kita sudah sampai.
Justru karena kita belum sampai, maka kita masih berjalan.
Dan selama masih berjalan, selalu ada kemungkinan untuk menemukan sesuatu yang baru.
KITALAGI+.
Lebih dari sekadar mimpi. Ini tentang perjalanan yang sedang kita jalani.

